Minggu, 04 September 2016

Love in Islam

       Cinta...
       Hal yang naluriah ada pada diri tiap manusia, baik laki - laki maupun perempuan. Sejak kapan cinta itu hadir? Secara teori awal darinya adalah ketertarikan kepada lawan jenis saat masa pubertas. Kemudian sebagian dari kita menyatakannya sebagai cinta... Lantas bagaimana Islam memandang cinta?

       Cinta dalam pandangan Islam adalah hal yang suci dan terjaga, karena merupakan anugerah terindah dari Allah kepada makhluknya... Begitu Islam sangat memuliakan cinta, sampai Islam melarang adanya interaksi antara Ikhwan dan Akhwat secara intim kecuali telah halal. Fenomena yang terjadi sekarang adalah bagaimana cinta itu disalurkan dan diwujudkan?
       Islam telah memberi solusi atas pertanyaan itu dalam Al - Quran. Dalam Q.S An - Nur ayat 32, Allah memberikan solusi atas hal itu dengan menikah. Dalam ayat tersebut, bahkan Allah menjamin kelapangan saat kita ingin menikah. Jika ia miskin, maka Allah akan cukupkan baginya... Ketakutan para orang tua akan masa depan putrinya pun tak usah dirisaukan selama niat dan ikhtiar dalam pernikahan itu semata Lillahi Ta'ala... Menikahpun menjadi sebuah bukti nyata, realisasi dari sebuah komitmen antara laki - laki dan perempuan untuk berumah tangga dan menyempurnakan sebagian dari agamanya.
       Kemudian, bagaimana jika terlalu dini jika menikah? Atau masih ragu dengan perasaan kita? Atau merasa belum mampu dalam hal finansial dan sebagainya? Allah SWT pun memberi solusi dalam Q.S An - Nur ayat 30 bahwa kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan terhadap apa yang haram bagi kita. Baik hati, pikiran dan mata harus dijaga ketundukkannya pada Allah semata... Karena dari pandangan itu akan menimbulkan fitnah, dan disanalah setan akan merayu manusia dalam kemaksiatan...
Saat kita belum mampu untuk menikah, janganlah kita mengutarakannya kecuali kita akan menikahinya. Sebab cinta adalah hal yang suci, maka janganlah kita kotori untuk hal yang dimurkai Allah dengan 'berzina' pada yang haram bagi kita...

       Semoga Allah melapangkan hati dan jiwa kita, mencukupkan apa yang kita butuhkan, mengabulkan doa kita, dan memberikan jodoh terbaik untuk kita yang senantiasa memperbaiki diri Lillahi Ta'ala. Amin...

Kamis, 21 Juli 2016

Andai Aku Adalah Ali...

      Ali Bin Abi Thalib...
      Salah satu sosok pemuda Islam yang telah menginspirasiku dalam hidup ini... Dia lelaki yang hebat, pemuda yang luar biasa dan Idaman para bidadari surga...
     
      Dia adalah sepupu Rasulullah SAW, sekaligus sahabat Nabi yang termuda... Dia adalah sosok yang sederhana, bahkan mungkin bisa dibilang miskin hartanya, namun Masha Allah ia kaya akan akhlaknya...
     Salah satu hal dalam kisahnya yang menginspirasiku sebagai pemuda, sebagai remaja yang tengah berada dalam arus zaman yang makin tua dan mendekati akhirnya, adalah kisahnya dalam hal membina hatinya...

      Ali terlahir dalam keluarga yang miskin, bahkan ia pun diasuh oleh Rasulullah untuk memenuhi hidupnya... Sebagai sepupu dan sahabat Rasulullah, ia pun dianugerahkan oleh Allah akhlak yang terpuji...
     Sebagai seorang pemuda, tentu sudah menjadi naluriah manusia untuk tertarik kepada wanita. Namun, ia bukan lelaki yang mudah dalam mengungkapkan. Singkat cerita, ia tertarik kepada Fatimah binti Muhammad, puteri kesayangan Rasulullah SAW... Kecantikan paras dan akhlak Fatimah membuat Ali jatuh cinta... Namun, terbesit dalam hatinya tentang keadaannya yang menurutnya tidak pantas untuk wanita seperti Fatimah. Ia pendam perasaannya pada Fatimah karena sadar akan hal itu, dan ia sibukkan dirinya pada Allah SWT... Berharap Allah akan menjaga hatinya...

     Sampai ketika Ali merasa harus mengungkapkannya, Ali merasa hancur... Ia mengetahui bahwa Abu Bakar akan melamar Fatimah. Hancur hati Ali... Wanita idamannya akan dilamar dan dipinang oleh Abu Bakar yang tak lain adalah sahabat karib Rasulullah SAW. Ali pun merasa bahwa dirinya tak bisa dibandingkan dengan Abu Bakar yang telah berjasa kepada Rasulullah dalam tugasnya. Ali kecewa... Ia pun menguatkan diri atas kenyataannya... Namun, apa yang terjadi? Dia mengetahui bahwa Rasulullah telah menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali terkejut dan bahagia, karena bagaimana mungkin Rasulullah menolak lamaran seorang Abu Bakar? Ah sudahlah, Ali merasa bahwa inilah saatnya untuk kembali pada niatnya dahulu, melamar Fatimah...

     Saat Ali meyakinkan diri untuk melamar Fatimah, apa yang datang kepadanya justru kembali membuatnya hancur... Umar bin Khattab melamar Fatimah!!! Lelaki gagah nan berani, seorang panglima perang andalan Islam bagi Rasulullah yang disegani itu melamar Fatimah... Hancur hati Ali... Kini ia pun makin merasa kecil bila dibandingkan dengan Umar....
     Kini Ali pasrah... Mengembalikan hatinya pada Sang Illahi... Dan Ali pun mengatakan dalam hatinya "Aku mengutamakan Umar atas diriku, dan kebahagian Fatimah atas cintaku"
     Masha Allah, betapa Ali sangat merendahkan dirinya dihadapan Allah... Yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Illahi... Ali pun menguatkan kembali hatinya, bahwa Allah akan mengembalikan hatinya dan memberikan yang terbaik dan dibutuhkan olehnya... Namun, datanglah Abu Bakar... Kehendak Allah lah yang Maha Indah nan Mengharukan... Abu Bakar membawa berita bahwa lamaran Umar pun ditolak juga oleh Sang Kekasih Allah... Ali pun bingung, menantu seperti apa yang dinginkan Rasulullah? Saat tengah berpikir, Abu Bakar pun menyarankan Ali tuk melamar Fatimah kembali... Kini Ali pun bingung dan semangat. Namun, tekadnya demi Fatimah semakin menggelora... Dengan perasaan malu dan merendah, ia mengunjungi Rasulullah dan menyatakan bahwa ia berniat melamar Fatimah... Siapa sangka? Sang Kekasih Allah pun mengatakan, "Ahlan wa Sahlan, ya Ali..." Rasulullah menerima lamaran Ali dan mengatakan bahwa cukup memberikannya mahar baju perangnya...
Subhanallah, Ali menikah dengan Fatimah!!!

    Ditengah kebahagiannya, Fatimah mengatakan kepada Ali bahwa sebenarnya sebelum ia dinikahi Ali, ia telah lebih dahulu mencintai seorang pemuda. Mendengar hal itu, Ali mengatakan bahwa ia Ikhlas jika Fatimah tidak memperkenankan pernikahannya... Dalam derai air mata Ali, Ali bertanya kepada Fatimah sebelum menceraikannya... Siapakah lelaki itu, wahai Fatimah? Fatimah menjawab, engkau ya suamiku, Ali Bin Abi Thalib...

      Subhanallah, betapa indahnya Islam menjaga kesucian cinta... Mempertemukan dua insan yang berakhalakul karimah, menjaga cintanya hanya untuk halalnya kelak...
Betapa Islam tak memandang status sosial dalam cinta... Islam mengutamakan akhlak dalam Cinta... Menjaga cinta agar tetap pada kesuciannya hingga Allah menyatukannya dengan sang yang diidamkan hati...

      Andai kita dapat meneladani Ali dan Fatimah dalam menjaga hati, cinta dan pergaulannya, tentu akan menjadi sebuah kisah cinta bagai negeri dongeng... Namun ini nyata dan betapa Allah tak pernah menyalahi Janji-Nya, ia adalah Zat yang Maha Cinta... Serahkan cintamu pada-Nya, dan mohon padanya agar mendapat Ridho atas pilihan kita...

     Kini, yang perlu kita lakukan adalah, memperbaiki diri untuk mendapatkan yang kita inginkan, dan jangan lupa meluruskan niat, Lillahi Ta'ala...

Sabtu, 02 Juli 2016

Gelitik Masa Orientasi Siswa

       Akhir - akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang Masa Orientasi Siswa atau MOS... Kabarnya MOS kini diganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS berdasarkan Peraturan Mendikbud Nomor 18 tahun 2016...
MPLS melarang adanya aksi bully, plonco, tindakan mempermalukan, hal - hal yang tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah serta senioritas. Artinya, Guru adalah subjek dalam kegiatan ini, bukan kakak kelas...

      Rasa bahagia, senang dan syukur pun tercurah khususnya oleh siswa - siswi dan orang tuanya. Maklum saja, selama ini MOS atau MPLS identik dengan atribut nyeleneh. Belum lagi kabar aksi kekerasan dan bully oleh para seniornya. Tentu ini menjadi angin segar bagi siswa - siswi dan orang tua peserta didik baru...

       Tapi, ada rasa gundah dalam diri saya pribadi...
       Saya pernah menjadi Panitia MOS sebelumnya, dengan posisi Mentor. Sekolah saya pun sudah menerapkan ini bahkan sebelum peraturan ini dibuat. Bandingkan tetangga kami yang tahun lalu masih menerapkan atribut nyeleneh... MOS waktu itu sangat soft, friendly and happy. Kami enjoy dengan acara itu, seperti keluarga mendadak...
Kemudian saat mulai KBM Tahun Pelajaran baru, bagian dari efeknya muncul...
     
       Kelas X yang di MOS dengan cara itu, ternyata terlena bahkan meremehkan... Meremehkan peraturan sekolah, kakak kelas dan gurunya... Seolah dilayani bak raja sebelumnya, sehingga bebas berlaku apa saja... Saya mengakui bahwa dalam MOS kemarin, tekanan dan pembinaan kami memang kurang... Tidak ada shock therapy untuk membiasakannya... Apalagi LDKS yang sangat enak...
      Hasilnya, mereka terlena... Ngga ngerasa dibina, seolah diajak main... Akibatnya mereka merasa raja... Harus dilayani dengan dalih pendidikan... Salah siapa ini? Kita lihat di media banyak kasus guru dibui karena mencubit siswanya, padahal siswanya itu nakal dan melanggar aturan... Lucunya Indonesia, Tuhan... Guru seakan hanya menjadi orang yang mengajarkan akademik saja, tanpa etika, moral dan spiritual...
     
       Memberi hukuman kepada mereka yang melanggar justru dibui... Dengan dalih pendidikan yang sehat dan hak asasi manusia dan korban dibawah umur... Lantas dengan apa guru - guru kami mendidik? Peraturan ini tidak disurvei kah? Bagaimana mental anak - anak indonesia sekarang? Manja!!!
       Negeri kita banyak orang pintar! Banyak orang hebat! Banyak orang sukses! TAPI MISKIN PEMIMPIN! Mengapa? Karena kurangnya dukungan pembinaan, kurang pelatihan, kurang shock therapy, kurang sosialisasi dan pencerahan agama... SEMENTARA PEMIMPIN DIHASILKAN DARI PROSES YANG MENYAKITKAN, DERITA, PELUH, AIR MATA HINGGA TIDAK ADA LAGI HAL ITU DALAM KEPEMIMPINANNYA KELAK!
       MEMIMPIN ADALAH MENDERITA!!! Bagaimana membagun mental Agus Salim pada generasi sekarang wahai pemimpinku?!!! Kau bilang JAS MERAH!!! Para guru - guru kita sekarang dilema... Hasil yang kalian minta tidak sejalan dengan cara yang harus kami lakukan!!!

      Kini, kami, para bapak ibu guru harus mengatur strategi, bukan untuk berkedok dalam dilema ini... Tetapi mengatur agar pembinaan tetap berjalan menyesuaikan peraturan ini... Bukan karena senioritas, tapi kami ingin pemimpin... Pemimpin dilahirkan atas proses panjang nan menyakitkan, bukan hura - hura dan permainan!

Kamis, 23 Juni 2016

Memantaskan Diri...

       Hampir setiap waktu, aku merasa bahwa hati ini terlalu 'murah'...
'Murah' karena dengan siapa saja aku tertambat, terpesona dengannya, dan mendambakannya. Namun, saat itu juga luka itu datang... Datang dari dalamnya dan kenyataan bersamanya... Menghancurkan pilar - pilar yang ingin kubangun bersamanya...

      Bukan pertama kalinya...
Hampir berkali - kali merasa hal yang sama... Lantas aku bertanya, manusiawi kah? Wajar kah? Atau aku yang diperbudak nafsu?
Tidak pernah aku mengutarakan, namun semakin aku mendamba, kepahitan selalu mengiringinya...
Andai hidup seindah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, pasti tenang sudah hidup ini...

       Mereka bilang, Allah maha Adil... Allah memasangkan dua insan yang sepantas satu sama lain...
Hingga bisa kusimpulkan, bahwa apa yang harus dilakukan sekarang adalah memantaskan diri dengan menjadi sosok seperti apa yang kita butuhkan, bukan inginkan! Dengan niat semata lillahi ta'ala...
Meski bukan engkau, bahkan aku pun tak tahu bagaimana engkau, aku hanya berdoa, semoga engkau berada dalam kepantasan denganku dan sebaliknya, serta dalam semangat memperbaiki diri dan menutup kekurangan masing - masing...
Atau Allah mempunyai rencana indah sebagai gantinya, untukku dan untukmu...
Insha Allah...

Sabtu, 11 Juni 2016

Sang Pemilik Hati

       Setelah berlarut - larut dalam 'perjudian' itu, aku memutuskan untuk men-sharing hal ini pada seseorang yang berwenang dalam 2 keputusan 'perjudian'ku. Intinya, dia mengharapkan aku tetap dalam tempat itu. Tapi, ngga tau kenapa, rasanya aku mulai kembali cinta pada tempat itu. Setelah sebelumnya betapa aku ingin pergi jauh darinya, tapi kali ini justru bertolak belakang. Dan dari hari - hari yang ku jalani setelah keputusan bertahanku, justru aku kembali mendapat ritme dan feelnya...

       Kalo sudah begini, harus aku simpulkan bahwa aku harus kembali, kembali seperti dulu, namun lebih baik karena separuh dari aku yang dulu telah kembali... Mungkin aku butuh penyeimbang yang bisa mengakomodasi aku untuk tetap survive...

       Alhamdulillah, kalimat yang tiada henti aku bersyukur pada Allah atas ujian-Nya dan pelajaran-Nya. Bahwa semakin yakin dan iman aku bahwa sesuatu berlaku atas kehendak Allah SWT.
Kini, bismillah, aku akan memulai kembali pertarungan hidupku, pertarungan dengan diriku sendiri bersama Allah SWT disisiku...

Jumat, 03 Juni 2016

Perjudian Hidupku

       Perjudian...

       Kata yang terdengar kurang enak tapi cocok untuk menggambarkan keadaan yang kupilih saat ini. Jika sukses aku bertahan, jika gagal aku hancur...
Sekian lama waktu berpikir, perdebatan hebat antara hati dan pikiran, mendengar pendapat dari beberapa sahabat, dan Allah memberiku petunjuk bahwa ego ini harus aku redam, kuputuskan bertahan.

       Mengambil keputusan yang kukira mudah, ternyata jauh dari perkiraan. Berbagai konsekuensi baik untuk pribadi maupun mereka, banyak mengulang tanya tentang keputusanku....
Anggap saja aku berjudi! Aku bertahan semata menunaikan amanah, meski tahu nanah macam apa didalam... Semata mengawasi jangan sampai terlewat batas... Toh, prediksi selanjutnya sudah kupegang. Tapi jika aku gagal, aku hancur bersama kegagalan itu. Setidaknya amanah telah kulaksanakan.

       Tentang mereka, mereka yang aku masih sayangi, sayang karena aku tahu potensi mereka... Saat ini aku hanya bisa melihat dan menilai, demi kalian yang lebih baik diluar prediksiku. Kalaupun terjadi, aku harap kalian menjadi agen perubahannya.
Saat ini, aku hanya ingin menjalani sisa amanah ini dengan tenang, tidak mau terlarut dalam kesenangan semu itu lagi... Tempat ini baik, sayang nanah didalamnya... Biarlah, ini aku jadikan pelajaran hidup. Suksesnya disini adalah pelajaran hidup, aku mengerti sekarang...

      Bismillah...

Sabtu, 21 Mei 2016

Mental atau Pembinaannya?

       Sudah sering kita dengar istilah Revolusi Mental. Istilah yang terkenal oleh Presiden Jokowi dan Wakilnya JK. Selaras dengan keadaan organisasi saat ini. Mental - mental payah yang harus dibina.
    
      Era sekarang adalah era dimana setiap orang berhak terlena. Terlena karena merasa didiamkan, merasa tidak ada shock therapy, merasa friendly sehingga seolah tidak ada batas struktural, etika maupun norma. Dengan alasan pengakraban, kesolidan dan lainnya tembok tersebut hancur sehancur - hancurnya sehingga berdampak pada attitude organisasi.
      Gobloknya, mereka sangat vokal menentang saat dikritisi dalam evaluasi tentang internalnya, tapi ngga mau membenahi. Dievaluasi hanya masuk telinga, keluar pantat. Ngga kalah vokal dalam menuntut kesuksesan acara tetapi lambat saat persiapannya. Mental sampah yang harus dibinasakan! Andai ngga ada norma yang dilanggar, ingin rasanya tempeleng kepala - kepala penuh kotoran dan hati penuh nanah itu.
       Sekarang, perbedaan prinsip ini semakin jelas terlihat, semakin jelas timbulnya bahwa pandangan kami sangat bertolak belakang. Entah benar atau salah, saya rasa saya harus hijrah. Terlintas dalam benak untuk pergi dari keadaan ini, tapi lagi - lagi, Sang Pemilik Hati ini mengarahkan saya untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dahulu.
     
       Terlanjur lelah, lelah akan ketulian dan kebutaan mereka. Ya Allah, engkau yang Maha Mengatur, beri kami petunjuk-Mu agar kami tetap pada jalan-Mu

Selasa, 17 Mei 2016

Kamu Terlena Atau Ambisius?

       Dalam sebuah organisasi, pasti ada yang namanya program kerja, baik internal atau eksternal. Tapi apa jadinya kalau tidak ada balancing antara internal dan eksternal?

      Sibuk mengurus wajah ketimbang membersihkan kotoran dalam perut. Ungkapan yang tepat sebagai gambaran saat ini. Mungkin memang ada perbedaan prinsip disini.
      Hidup adalah amanah. Amanah diberikan berdasarkan penilaian, baik secara kuantitas, kualitas maupun attitude dan moral. Jangan berpikir yang ngga - ngga alias suudzon terhadap situasi ini. Mari berkaca dengan keadaan kita saat ini, pantas dan layak kah kita meminta lebih sementara rongga dalam kita bernanah?
      Kemudian muncul pertanyaan kasar, sampai kapan kalian akan sevokal ini? Sampai kapan kalian akan seribet ini? Apakah setelahnya kalian konsisten? Apa pernah terpikir kegiatan lainnya? Silahkan tanya pada diri kita masing - masing....
      Jangan membawa suara "Harga Diri". Harga diri ada karena internal kita, internal kita yang harus menunjukan bahwa kita layak. Sudahkah layak? Silahkan kita flashback beberapa minggu lalu, apa yang terjadi di internal kita?
      Kesalahan kita adalah ambisius bodoh. Bodoh karena tidak mau peduli dengan nanah dalam kulit kita, sementara ingin terlihat baik.

       Kalian yang saat ini tengah dalam "kemabukan", biar waktu yang mengajarkan kalian bahwa introspeksi adalah hal mutlak dalam pemenuhan hak atas kewajiban... Semoga kalian sadar, bukan saya diam atas semua ini. Saya tau bahwa kalian sudah pada tahap mabuk luar biasa, biar hal yang luar biasa juga yang menyadarkan kalian... Saat ini, saya pun belajar, belajar dari kalian, bagaimana Allah menyadarkan kalian...

Senin, 09 Mei 2016

Pilihan Yang Harus Ditentukan!

      "Putuskan dan tentukan!"
      Kalimat singkat, padat dan jelas. Yang berarti harus ada pilihan yang ditentukan dan langkah yang harus diputuskan. Kalimat yang sangat menjelaskan secara lugas bahwa selama ini kita 'terlalu baik' dalam toleransi. Terlalu memikirkan satu sisi tanpa melihat efek ke sisi yang lain. Mengorbankan semua demi yang satu, satu yang tidak bisa dirubah, satu yang membuat gesekan, satu yang membuat kita stagnan...

      Hidup itu dinamis. Hidup itu seleksi. Hidup itu pahit. Hidup itu peluh. Hidup itu keringat. Segala tentang hidup tidak semuanya senang. Agar kita bersyukur akan nikmat-Nya dan menguatkan kita.
     "Sampah di tengah lautan pasti akan ke tepi!"
      Kasar memang, tapi benar adanya.
      Saat bicara tentang organisasi, maka kita bicara tentang tujuan bersama. Bicara tentang kepentingan bersama. Untuk apa pusing memikirkan yang dengan Pengecutnya berontak? Pengecut! Karena tidak jantan dalam mengambil sikap. Ngga nyamanmu, kamu kasih tau. Tapi kamu ngga bertanggung jawab dan ngga punya keinginan untuk mendapat dan membuat solusi. Hingga akhirnya alasan itu lagi - itu lagi yang diberi.
       Kalau gitu, silahkan! Jangan ganggu kami dengan Pengecutmu itu! Masih ada hal yang jauh lebih penting yang harus dikerjakan daripada menyimpan sampah.
      Ah, percuma! Kamu ngga berani karena kamu pengecut. Sampai akhirnya kami yang membuat keputusan. Ngga perlu bertanya kenapa, hati kamu sendiri yang akan jawab! Dan terbukti! Sampah akan lebih bau pada tempatnya. Saya pikir ini tepat. Seengganya sampai saat ini kamu sendiri yang menunjukan sampahmu itu....

     Saya, kami bersyukur...
     Bersyukur karena satu penghalang telah pergi. Ini yang harus diputuskan. Sudah lama kita berjalan dan alasan ngga logismu sudah terlanjur bikin saya mual...
      Pergilah! Tunjukan aslimu agar kami bersyukur! Bersyukur karena virus telah hilang dari kami...
Dan terima kasih! Terima kasih telah mengingatkan bahwa kami harus berbenah...
     
    
      Terima kasih...

Minggu, 01 Mei 2016

Salah Rekrut?

      Salah Rekrut?

      Judul yang menarik...
      Bicara soal rekrutmen, bicara soal seleksi pemilihan. Kita sering mendengar dan mengenal contoh rekrutmen, sebut saja rekrutmen karyawan perusahaan, pemain sepak bola, pembalap dan lain - lain. Dalam rekrutmen tentu saja ada kriteria standar yang harus dipenuhi oleh para calon. Tentu saja dengan maksud mendapatkan calon terbaik.

      Tapi, bagaimana dengan perekrutan tanpa seleksi? Salah kah? Saya rasa ngga salah. Karena prinsip saya yang terpilih lewat seleksi pun belum tentu terbaik...
Bagi saya, semua kembali pada diri masing - masing. Harus mampu melaksanakan amanah yang sudah diberi, terlebih bagi mereka yang tanpa seleksi. Mudah...

      Ada beberapa dampak yang saat ini ada disekitar saya sebagai akibat dari hal tersebut.
Pertama, munculnya kecemburuan bagi mereka yang mengikuti seleksi kepada mereka yang tidak mengikuti seleksi. Jelas hal ini terjadi karena merasa bahwa mereka yang tanpa seleksi masuk dengan sangat mudah, sementara mereka yang seleksi harus berkorban sebelumnya.
Kedua, munculnya opini - opini kotor. Opini tentang adanya faktor popularitas, kedekatan, hubungan dengan orang - orang yang berkaitan dengan rekrutmen, dan lain - lain.
Dan ketiga, muncul pikiran meremehkan. Meremehkan bibit bebet bobotnya si calon ini. Karena merasa tidak mengikuti proses dari awal, sehingga mental dan etosnya belum bisa diandalkan.

      Dari pengalaman saya, mereka yang tidak ikut seleksi tidak semuanya buruk. Seperti kata saya sebelumnya, kembali pada diri masing - masing. Ada mereka yang meski tidak seleksi, mereka mampu mengemban amanah dengan sangat baik karena tanggung jawab. Ada pula yang tidak menghargai dan melaksanakan amanah yang diberi dengan tidak bertanggung jawab.

      Kalo boleh berkomentar dalam hal ini, saya rasa rekrutmen tanpa seleksi tidaklah salah selama telah mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Terutama bahwa bermacam - macamnya pandangan orang. Saya pikir kunci dari rekrutmen tersebut adalah menempatkannya pada posisi dimana dia dapat belajar dahulu sebagai modal untuk kelanjutannya. Ini lebih baik sehingga meminimalisir gesekan dalam internalnya. Namun untuk posisi strategisnya, diperlukan betul pengenalan luar dalam dari si calon. Posisi ini posisi paling vital, dia adalah nakhoda yang mengarahkan dan mengatur kapalnya. Juga sebagai percontohan bagi anggotanya. Maka, harus sangat mengenal luar dalamnya.

       Jadi, saya rasa untuk para perekrut, mohon dipertimbangkan betul dampak internal dan eksternalnya. Bahwa bagaimanapun kita berada di lingkungan masyarakat yang heterogen dalam pola pikir dan pandangannya yang tidak bisa kita satukan visinya secara mutlak dalam waktu singkat.
Dan bagi mereka yang diberi amanah luar biasa, jaga dan laksanakanlah amanah itu. Kalian adalah orang - orang spesial, maka tunjukanlah bahwa kalian layak menyandang predikat spesial itu. Jangan kita kita khianati amanah yang begitu mahal harganya!

      Sukses dan Bravo Organisasi!

Jumat, 29 April 2016

Nikmati...

       Nikmati...
      
       Kata yang indah mungkin hanya pada saat momen yang tepat. Kayaknya agak kurang relevan untuk hal yang dirasa kurang menyenangkan.

       Ya itulah yang saat ini saya rasakan. Pusing, ribet, fokus terbagi - bagi dan lainnya. Memang ini jalan yang sudah saya pilih, dengan segala konsekuensi dan komitmen didalamnya, terutama dalah hal balancing. Rasanya ingin menyerah dari OSIS, ingin fokus dengan akademik. Tapi, hati ini bertanya, " dimana dan kapan lagi kamu bertemu dan merasakan hal ini lagi?" Sayang, saya ngga bisa jawab.
     
      Banyak hal yang perlu dikorbankan dalam organisasi ini, baik waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan hati. Hal - hal yang memang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan di OSIS. Belum lagi dengan hal - hal diluar OSIS. Ini lah yang menjadi salah satu alasan kelelahan ini.

       Tapi, hati ini berbisik lirih saat mulai pikiran jelek merasuk, sanggup kah? Kuat kah? Rela kah? Setelah selama ini banyak perjalanan sudah dilalui? Setelah sudah dikatakan bahwa ini adalah tempat yang baik untuk masa depanmu? Bagaimana dengan tanggung jawabmu? Sertijabmu? Sial!!!

      Sial! Semudah ini hati mematahkan logika kotor ini. Ya, mungkin Allah menjawab resah ini melalui seorang pembina OSIS ku, Abi Dhani. Lewat status Facebooknya dia bilang, Nikmati saja tiap peluh dan air mata, mainkan saja peranmu sebagai hamba-Nya yang bersabar, dan yakinlah itu adalah cara Allah untuk mengangkat derajat hambanya. Saya tidak peduli untuk siapa dan untuk hal apa kalimat ini, bagi saya apapun itu, ini sangat mewakili apa yang saya rasakan.

      Manfaat OSIS, hanya itu yang saya yakini. Saya memang lebih tertarik untuk menjadi yang berbeda. Selama saya masih bisa menyeimbangkan kewajiban saya, saya pikir ngga masalah.

      Bertahan, anggap saja ini penempaan yang menjadikan pisau yang tajam. Sakit, air mata dan peluh. Sedikit bumbu kehidupan agar kita bersyukur atas hidup ini. Karena rasa manis akan terasa nikmat manisnya setelah rasa pahit. Pahit demi rasa manis kelak, Insya Allah 😇

Sabtu, 16 April 2016

Saat Kualitas Diatas Kuantitas!

       Dalam hal Organisasi, biasa banget ditemuin orang - orang yang ngga niat di dalamnya. Baik karena murni niat ngga bener mereka atau faktor luar yang mendorong mereka ngga niat. Hal kaya gini biasa sebenernya. Cuma kesel banget jadinya kalo didiemin.

      Selama di periode kedua saya di OSIS, ternyata lumayan banyak virus nya. Awalnya kami cuma liat dari sisi niat mereka doang di OSIS yang bikin kami akhirnya kasih warning. Tapi ada hal lain yang ternyata sudah menampar kami dengan keras.
Membiarkan virus - virus itu bukan berarti kami diam. Kami masih memberi kesempatan dan peringatan buat mereka. Tapi apa yang terjadi disisi lainnya? Apa yang kami anggap sebagai kesempatan bagi mereka ternyata telah mengabaikan mereka yang niat di OSIS. Telak banget tamparannya!
Kami mungkin terlalu sibuk ngurusin orang yang ngga bener sampe lupa bahwa ada orang yang bener - bener niat yang harus disupport. Setelah dipikir - pikir ada benernya juga. Toh udah sekitar setengah periode berjalan, mau sampe kapan dibiarkan?
Dengan banyaknya kegiatan dan proker yang harus dilaksanakan, kami ngga mau dong buang - buang waktu cuma buat ngurus virus. Basmi ya dibasmi deh. Ada orang - orang niat yang terabaikan karena kami sibuk urus tuh virus. Simplenya, tegas sekalian.
"Saya bisa kaya mereka asal ada yang bisa saya perjuangkan!" Singkat, padat dan menampar! Sakit demi membersihkan nanah ngga masalah, karena akhirnya indah. Justru kami bersyukur. Makasih banget.
Toh pembina kita udah bilang, habiskan! Lebih baik sedikit tapi ikhlas! Udah ngga ada lagi alasan buat ngurusin yang ngga penting.
Demi OSIS yang lebih baik dan regenerasi yang baik pula, why not?

       Kuantitas memang penting, apalagi jumlah udah dikit. Tapi buat apa kalo cuma bikin ngulur dan buang waktu? Toh masih banyak yang bisa, sayang aja mereka ngga masuk karena belum all out dalam aksinya. Kita yang udah disini, harusnya nunjukin bahwa amanah yang dititipkan tepat sasaran ke orang yang benar. Inget, ada saatnya kualitas diatas kuantitas!

Rabu, 13 April 2016

Alumni, apa kabar kamu?

      Malam, all...
      
      Ngeposting juga nih akhirnya... Mumpung lagi free *belajar woy!!!! UTS Coeg!!! Kalem... Kita atur waktu nanti...
Alumni menurut saya adalah orang yang telah menyelesaikan suatu proses. Menarik membahas ini, kenapa? Karena saya memiliki pandangan tentang alumni ini

      Namanya aja alumni, artinya selesai. Pertanyaan unik saya adalah, apakah selama menjalani proses yang ada, adakah mereka mengaplikasikan hasilnya dalam kehidupan mereka sehari - hari setelahnya? Pastinya proses tersebut adalah positif ya...
Kenapa saya tanya begitu? Karena ada disekitar kita orang - orang yang saat berada dalam proses tersebut sangat getol dan vokal dalam 'menegakkan' yang harus ditegakkan. Apalagi saat melihat alasan dan niat mereka dalam mengikuti proses tersebut. Sekarang yang terlihat justru mereka menjadi orang yang harus dibenahi saat dulu masih dalam proses.

      Entah karena memang sudah hukum alamnya atau memang mentalnya yang seperti itu. Tapi menurut saya, proses tersebut seharusnya menjadi media kita untuk lebih baik dan terbaik. Namun, mungkin prinsip kami berbeda. Yang terjadi saat ini adalah membuat saya tertegun. Tapi, yaudahlah... Mereka yang berhak atas diri mereka, saat ini saya fokus dengan diri saya dan tanggung jawab saya.
Saya yakin, hasil tidak pernah mengkhianati proses kecuali atas izin-Nya. So, proses menjadikan kita lebih baik setelahnya, bukan menjadi baik hanya pada saat prosesnya saja dan mengkhianati kita yang dulu...

      Good luck, guys!!!

Minggu, 10 April 2016

Teruskan! Jangan berhenti!

       Mungkin ini rasanya jadi pengayom, jadi orang yang mempunyai tugas mengayomi adik - adiknya. Meski ngga sedikit dari mereka yang bikin hati mendidih, tapi saat melihat sisi yang lain, ada mereka yang mulai kelihatan...

       Segelintir orang yang saya yakin akan menjadi engine periode selanjutnya. Tidak peduli siapa dia karena mereka semua pada dasarnya adalah calon agen perubahan, perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Saya ngga terlalu peduli dengan periode ini... Bagus, jelek, lumayan atau apapun itu ngga penting buat saya. Saya cuma ingin kita semua mendapat pelajaran dalam setiap waktunya diperiode ini. Saya juga masih belajar, dan akan terus belajar. Tapi ada ada hal yang ingin saya raih diperiode ini, melihat kalian siap diperiode selanjutnya...

       Ambisi periode ini bagi saya tidak penting, karena saya sadar ada banyak nanah disana. Membersihkan nanah tersebut sehingga menjadi emas nantinya jauh lebih baik bagi saya ketimbang memaksakannya sekarang juga. Bagi saya itulah kesuksesan periode ini jika berhasil. Tidak masalah apa kata orang lain, karena inilah kenyataannya, karakter dulu dan sekarang sangat berbeda.
Berusaha merubahnya memang sulit, bahkan akan terbentur dengan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Meski harus menyingkirkan mereka, ngga masalah. Demi lenyapnya nanah - nanah itu, dan terbentuk engine - engine baru, kenapa tidak? Karena yang tesingkirkanpun sudah mendapat peringatan, untuk apa sibuk mengurus nanah padahal ada bakal emas yang harus diproses?

       Saya, kami, dan semua yang ada akan terus mensupport kalian. Meski sebagian dari kalian akan atau telah tersingkir, ingatlah bahwa kalian adalah calon pemimpin bagi mereka. Siapkan bekal kalian untuk memimpin mereka bahkan kami. Teruslah dengan keikhlasan dan ketulusan kalian, semangat kalian, niat benar kalian, hingga kalian tertawa lepas karena kesuksesan kalian dan kami menangis haru karenanya.
Perjalanan kita masih cukup panjang, banyak hal yang belum kita pelajari hikmahnya!

      Semangat, guys!

Sabtu, 09 April 2016

OSIS menjawab...

       Ada banyak banget pertanyaan - pertanyaan atau opini seputar OSIS dari teman - teman. Oke, sekarang coba kita kupas satu - persatu yang paling sering ada secara umum dimanapun OSIS berada *heleeeeh

       Pertama, OSIS adalah Organisasi Kesiswaan, oke! Bukan keguruan. Jadi kalo kamu tanya soal guru ke OSIS, kamu kurang tepat. Contoh : Kenapa siswa telat dikunciin gerbangnya tapi kalo guru ngga?
Guys, OSIS memang wadah aspirasi, kritik dan saran siswa. But, konteksnya dalam ranah kesiswaan. Tapi ya oke lah, saya jawab berdasarkan ahlinya langsung. Jadi gini, guru itu telat bukan berarti ngga ada hukumannya. Logikanya, kalo mereka telat terus ngga boleh masuk, siapa yang ngajar? Oke! Nah, hukumannya apa? Mereka juga mengenal SP alias Surat Peringatan. Daaaannnn, ini yang agak sensitif sebenernya, yaitu potong gaji. Ya, guru - guru yang telat juga punya absensi dan presensi, jadi kalo telat sekian menit, jam bahkan ngga masuk (baca : alpha), otomatis akan ada pengurangan gaji sesuai aturan mereka.
Dan lagi, mereka yang kita anggap telat, belum tentu telat! Mereka datang lebih siang karena bisa jadi jam mengajar pertama mereka ada di tengah hari. So, hak mereka untuk datang lebih siang, ibaratnya shift gitu simplenya. Kalaupun mereka datang pagi, silahkan, apalagi kalau mereka memang ada keperluan lain sebelum mengajar

       Kedua, OSIS dianggap HARUS TAHU pulang cepat atau ngga! Ini sumpah saya ngga habis pikir. Ada aja yang nanya begini. Ini kan ranahnya Kurikulum, bukan Kesiswaan. Kalaupun OSIS tahu, kami punya etika yang harus kami junjung. Membagi mana yang harus dishare, mana yang ngga boleh. Lagian juga, pulang cepet juga mau ngapain? Paling bersemayam diatas kasur sambil mimpiin doi, eeeeaaaakk

       Ketiga, Razia! OSIS tukang Razia katanya. Ya benar! Razia dilakukan dalam upaya penegakan aturan sekolah. Sama kaya Polantas, mereka melakukan razia tilang sebagai upaya penegakan aturan berlalu lintas. Nah, OSIS dalam hal razia ngga bisa sembarangan seenak kamu ngomong Tukang Razia. Banyak prosedur yang harus dilewati untuk OSIS bisa razia. Cek sana, cek sini. Belum lagi persetujuan dari BP / BK dan Kesiswaan
Dan satu lagi, kami OSIS bukan lepas dari razia. Sebagai Organisasi langsung dibawah kesiswaan, kami dituntut menjadi teladan dan contoh. Sebelum kami bergerak, kami wajib berbenah diri. Gimana OSIS mau bergerak kalau internalnya masih ada nanahnya?

       Keempat, OSIS dibilang suka cabut pelajaran! Ya!!! But, untuk keperluan kegiatan sekolah. Seandainya ada banyak waktu setelah jam KBM selesai, itu waktu yang akan kami pakai. Tapi karena udah pulang sore, barangkali panitia gurunya terbentur jam KBM nya, rapat mendadak atau bahkan memang sudah dijadwalkan, de el el... Apa boleh buat? Akhirnya OSIS harus izin jam KBM.
Tapi guys, asal kalian tahu. 'Cabutnya' kami bukan berarti kami lari dari tugas. Justru tugas yang ngejar kami. Sebagai anak organisasi, kami wajib kudu mesti fardhu ain buat balance antara tugas akademik dan organisasi. Kami harus ngejar materi, ngejar nilai, ngejar tugas de el el yang kami tinggal sejenak. Dan ini sulit! Barangkali kalian yang bisa full ikut KBM wajib bersyukur, gimana kami? Tapi tugas tetap tugas, kami tetap dengan usaha kami buat tetap balance. Dan disitu nikmatnya, kami belajar membagi waktu yang super duper power rangers mepet bin sempit binti dikit. Dan alhamdulillah, dengan tantangan ini, rata - rata pengurus OSIS berhasil melewati dan mencapai hasil terbaiknya

Kelima, OSIS kesayangan guru. Saya kurang sependapat. Kenapa? Ya karena biasa aja. Hanya barangkali karena OSIS sedang atau pernah bekerja sama dengan guru dalam kepanitiaan, jadinya komunikasi kami jadi lebih kelihatan dekat. Ngga dipungkiri lagi memang dengan adanya kerjasama dan hubungan dengan kepanitiaan itu membuat kami menjadi lebih dekat dengan mereka, tapi buat kami bukan berarti kesayangan. Apalagi kalau ada evaluasi, disana kami benar - benar harus introspeksi diri

       Nah, itulah sedikit pertanyaan - pertanyaan atau opini atau apalah tentang OSIS. Kami mengerti mengapa sampai ada hal kaya gitu dalam pikiran teman - teman. Karena memang kami yang tidak pernah menjelaskan, dan kalian yang tidak tahu keadaan sebenarnya. Semoga dengan post ini bisa menjawab 'ganjalan' tentang OSIS. Sejatinya OSIS tidak semudah dan seenak yang kalian pikir, tapi di OSIS ada kenikmatan yang sulit dijelaskan dan hanya bagi mereka yang tulus dalam OSIS 😇

       Happy weekend, guys!

Pilih Teman? Dilarang atau Dianjurkan?

       Teman, orang - orang disekeliling kita yang sering berinteraksi dengan kita. Mereka adalah salah satu media perubahan dan pembentukan kita, yups! Lingkungan! Di lingkungan pertemanan seperti apa kita berada.

       Pilih teman? Why not? Pilih teman disini adalah dalam arti bahwa kita milih teman untuk berbagi ilmu dan memantapkan hidup. Teman yang baik kah atau teman yang buruk? Karena lingkungan adalah salah satu media pergaulan kita yang menjadi faktor perubahan kita. Apalagi masa remaja katanya adalah masa pembentukan. So, mau seperti apa kita dibentuk, kembali ke kita ya...
Balik lagi ke pilihan *dipilih - dipilih Memilih teman disini adalah cara kita untuk mendapat teman hidup yang bermanfaat untuk akhirat kita. Teman yang dengan kebaikannya mampu merubah kita, yang dengan kejujurannya mampu memberi motivasi kita dan ketulusannya mampu mengajarkan kita. Mereka juga lingkungan kita, baik di masyarakat dan sekolah. So, ini penting!

       Yang dilarang adalah memilih teman untuk bergaul sehari - hari dalam arti interaksi sosial. Manusia adalah makhluk sosial, butuh orang lain. Jadi, sekedar bermasyarakat dan sosialisasi kita wajib membuka diri dengan siapapun dengan catatan mampu memfilter dan memilah, mana yang bisa kita ambil kebaikannya dan kita jauhi keburukannya. Ingatlah bahwa manusia punya sisi baik dan buruk, kita sebagai temannya perlu memilahnya agar pertemanan kita membawa kebaikan dan pelajaran yang luar biasa 😀

       So, enjoy your life and be the best of you, guys!

Mimpi Oh Mimpi...

       Ngomongin soal mimpi, udah ngga asing banget ya kan? Mimpi indah, mimpi ngga jelas and mimpi buruk salah tiga jenisnya *lah?!
Tapi apa jadinya kalo mimpi gigi seri atas copot tiga - tiganya?! Absurd banget sumpah! Saya yang awalnya ngga peduli sama tuh mimpi, mendadak resah gelisah. Akhirnya mbah Google menjadi tempat singgah pertama...

       Singkatnya, menurut blog blog di mbah Google, mimpi kaya gitu artinya akan ada Orang Tua yang meninggal. So, saya langsung hening ditambah suasana pagi yang seolah mendukung banget...
Akhirnya saya coba nyari solusi atas keresahan ini. Uniknya, ada cara buat ngehalau akibat buruknya. Kalo ngga salah pake kelapa sama sapu lidi gitu. *Kelapa?! Yups! Gitu kata ahli primbon *pria amat bl**n So, buat saya itu nyeleneh banget. Akhirnya saya kembalikan pada agama, ya berdasarkan pandangan Islam

       Dalam pandangan Islam, mimpi dibagi menjadi tiga, ada yang karena bisikan Allah, bisikan hati dan bisikan syaitan. Nah, dalam kasus saya, bisa dibilang ini bisikan syaitan *WTF?!
Mereka membisikan dan meniupkan keburukan keburukan yang akhirnya meresahkan manusia sehingga lupa bahwa semua sudah ditentukan dan ditetapkan Allah SWT. Didalam blog itu juga ada cara untuk mencegah keburukan atas mimpi tersebut

1. Meludah 3 kali ke arah kiri. Ini dilakukan sebagai bentuk langkah mengusir syaitan dalam diri kita, barangkali tubuh kita telah ditumpangi olehnya sehingga mereka leluasa mengerjai kita

2. Mohon perlindungan kepada Allah atas keburukan yang mungkin terjadi karena mimpi itu, dan mohon kebaikan atas mimpi tersebut

3. Yakinlah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Jasad ini hanya titipan untuk beribadah pada-Nya. Semua yang ada di alam semesta ini adalah milik-Nya. Kita sebagai hambanya hanya bisa pasrah dan menyiapkan bekal untuk Hari Kemudian.
Perbanyak ibadah dan berdoalah untuk kedua orang tua kita agar Allah SWT memudahkan urusannya dan surga untuk mereka. Jadilah anak yang shalih - shalihah, guys!

       Nah, alhamdulillah keresahan itu perlahan hilang dan kembali normal. Bahwa memang kita dalam hidup ini harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT 😇

       La tahzan, innallaha ma'ana...

Jumat, 08 April 2016

Masa ABG, Masa Pengujian Hati

       ABG, kata yang barangkali udah ngga asing ditelinga kita. Ya, ABG bisa dibilang Remaja. Istilah ini muncul sebagai bentuk perkembangan zaman *what?! Yang mengenal kegaulan

       Masa ABG itu masa yang bisa dibilang masa yang paling sulit. Why?! Karena disinilah naluri kita diuji *halaaah
Diuji dalam arti semampu apa kita mengatur dan mengendalikan naluri kita, naluri tertarik pada lawan jenis

       Ya kan?! Sebenernya tertarik pada lawan jenis itu ngga masalah kok, memang udah Allah sematkan ke manusia untuk ibadah (baca : nikah). Ngga salah kan? Cuma yang jadi masalah itu, kemana dan bagaimana kita mengekspresikannya? *Pacaraaaaaaaaaannnnn!!!! Lah rame 😑
Ya, rata rata kita jawab gitu termasuk saya!

       Saya juga ngerasain hal itu, tertarik sama perempuan bahkan hingga detik ini. Sempet waktu itu buat rencana buat nembak si doi, but?! Apa boleh buat, ternyata oh ternyata pemirsaaah, doi itu incaran banyak pria!!!!! *jengjengjengjeeennnnggg
Ya, saaakiiiitttt!!!! 😥 *utuk utuk utuk Tapi dari situlah saya berusaha move on dengan googling apa yang seharusnya saya lakukan. Ada banyak banget tips n trik buat move on, dan rata - rata solusinya yang banyakin kegiatan lah, jangan ngestalk lah, hapus kontak lah, blablabla segala macam!
Sampe akhirnya saya nemuin blog yang temanya Islami, dan Alhamdulillah adeeeemmmm 😇

       Yups! Singkatnya, saya ngerti bahwa cinta adalah naluri manusia yang suci yang dititipkan Allah untuk dijaga kesuciannya. Tertarik sama lawan jenis ngga salah! Tinggal kita yang harus menjaganya untuk sebuah ikatan suci pernikahan. Pacaran bukan langkah yang tepat, guys! Ingat bahwa Allah melarang kita untuk mendekati Zina, dan disanalah kebanyakan dimulai.

       Dan kini saya udah banyak banget mendapati ketertarikan dengan banyak perempuan, silih berganti meresahkan jiwa *halaaaaah Tapi yang saya yakini, bahwa cinta saya hanya untuk halalnya saya nanti, jadi gimanapun perasaanya saya hanya bisa memendam dan berdoa semoga Allah meneguhkan dan menenangkan hati ini

       Saya jujur terharu dengan kisah Fathimah Az - Zahra dan Ali Bin Thalib. Dua insan yang tidak pernah berinteraksi secara dalam, namun pada saatnya, mereka mengungkapkannya dengan indah dalam ikatan pernikahan. Allah yang menyatukan mereka, Allah yang mengetahui isi hati mereka sehingga Allah satukan mereka karena mereka telah menjaga kesucian cintanya hanya untuk halalnya kelak

       Simplenya, yang perlu kita lakuin sekarang adalah

1. Berdoa semoga Allah memberikan jodoh terbaik bagi kita. Kita yang laki - laki membutuhkan perempuan sebagai semangat dan penenang hati, so minta sama Allah biar dikasih

2. Siapkan bekal! Pernikahan adalah kebutuhan dan cara kita mengikat dia! Dia yang kita kasihi, dia yang selama ini kita dambakan. Siapkan bekal untuk hidup bersamanya, buktikan bahwa perjuangan kita untuk membahagiakannya dunia - akhirat adalah benar adanya

3. Pantaskan diri! Ini paling penting! Laki laki baik hanya untuk perempuan baik, perempuan baik hanya untuk laki laki laki baik dan sebaliknya. Jelas kan, guys?

       Itu basic point yang saat ini harus kita tahu dan jaga. Yakin deh, perempuan mana yang ngga klepek - klepek sama laki laki yang jantan! Jantan karena berani menghalalkan diwaktu yang tepat!
So, yuk kita hijrah! Kita tegaskan bahwa kita bertanggung jawab atas rasa cinta kita buat si dia yang lagi muter - muter di kepala kita. Yakin bahwa Allah mengetahui niat baik kita, insya Allah, Allah akan berikan kita yang terbaik nan indah 😇

Good night, guys!

Tentang Harry

       Assalamualaikum, guys!

       Perkenalkan nama saya Harry Trie, saya lahir di Bekasi 9 Januari 1999. Saat ini saya tinggal di Bekasi dan bersekolah di SMK Yadika 13 jurusan Teknik Otomotif Kendaraan Ringan.
       
       Saya adalah pribadi yang bisa dibilang 'introvert' (hasil googling, wkwkwk), jadi ya saya cenderung diam dan 'kumat' kalo udah nyaman 😂

      Saya saat ini berusaha belajar dari hidup ini, ada nilai - nilai yang ternyata luar biasa menginspirasi tanpa kita sadari. So, menjadi lebih baik tidak salah dan belum terlambat kan? Insya Allah

       Saya punya banyak (baca : menurut saya 😁) teman yang buat saya nyaman. Mereka dari berbagai macam karakter sifat, sikap dan kepribadian. Tapi dari merekalah saya belajar untuk mau memahami dan menghargai, asyeeek

       Udah lah segitu dulu aja, yang jelas saya akan berusaha untuk share pengalaman dan cerita hidup saya dan sekitar saya untuk menjadi motivasi dan semangat kita bersama ya...

       See you, wassalamualaikum!!! 😁