Sudah sering kita dengar istilah Revolusi Mental. Istilah yang terkenal oleh Presiden Jokowi dan Wakilnya JK. Selaras dengan keadaan organisasi saat ini. Mental - mental payah yang harus dibina.
Era sekarang adalah era dimana setiap orang berhak terlena. Terlena karena merasa didiamkan, merasa tidak ada shock therapy, merasa friendly sehingga seolah tidak ada batas struktural, etika maupun norma. Dengan alasan pengakraban, kesolidan dan lainnya tembok tersebut hancur sehancur - hancurnya sehingga berdampak pada attitude organisasi.
Gobloknya, mereka sangat vokal menentang saat dikritisi dalam evaluasi tentang internalnya, tapi ngga mau membenahi. Dievaluasi hanya masuk telinga, keluar pantat. Ngga kalah vokal dalam menuntut kesuksesan acara tetapi lambat saat persiapannya. Mental sampah yang harus dibinasakan! Andai ngga ada norma yang dilanggar, ingin rasanya tempeleng kepala - kepala penuh kotoran dan hati penuh nanah itu.
Sekarang, perbedaan prinsip ini semakin jelas terlihat, semakin jelas timbulnya bahwa pandangan kami sangat bertolak belakang. Entah benar atau salah, saya rasa saya harus hijrah. Terlintas dalam benak untuk pergi dari keadaan ini, tapi lagi - lagi, Sang Pemilik Hati ini mengarahkan saya untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dahulu.
Terlanjur lelah, lelah akan ketulian dan kebutaan mereka. Ya Allah, engkau yang Maha Mengatur, beri kami petunjuk-Mu agar kami tetap pada jalan-Mu
Sabtu, 21 Mei 2016
Mental atau Pembinaannya?
Selasa, 17 Mei 2016
Kamu Terlena Atau Ambisius?
Dalam sebuah organisasi, pasti ada yang namanya program kerja, baik internal atau eksternal. Tapi apa jadinya kalau tidak ada balancing antara internal dan eksternal?
Sibuk mengurus wajah ketimbang membersihkan kotoran dalam perut. Ungkapan yang tepat sebagai gambaran saat ini. Mungkin memang ada perbedaan prinsip disini.
Hidup adalah amanah. Amanah diberikan berdasarkan penilaian, baik secara kuantitas, kualitas maupun attitude dan moral. Jangan berpikir yang ngga - ngga alias suudzon terhadap situasi ini. Mari berkaca dengan keadaan kita saat ini, pantas dan layak kah kita meminta lebih sementara rongga dalam kita bernanah?
Kemudian muncul pertanyaan kasar, sampai kapan kalian akan sevokal ini? Sampai kapan kalian akan seribet ini? Apakah setelahnya kalian konsisten? Apa pernah terpikir kegiatan lainnya? Silahkan tanya pada diri kita masing - masing....
Jangan membawa suara "Harga Diri". Harga diri ada karena internal kita, internal kita yang harus menunjukan bahwa kita layak. Sudahkah layak? Silahkan kita flashback beberapa minggu lalu, apa yang terjadi di internal kita?
Kesalahan kita adalah ambisius bodoh. Bodoh karena tidak mau peduli dengan nanah dalam kulit kita, sementara ingin terlihat baik.
Kalian yang saat ini tengah dalam "kemabukan", biar waktu yang mengajarkan kalian bahwa introspeksi adalah hal mutlak dalam pemenuhan hak atas kewajiban... Semoga kalian sadar, bukan saya diam atas semua ini. Saya tau bahwa kalian sudah pada tahap mabuk luar biasa, biar hal yang luar biasa juga yang menyadarkan kalian... Saat ini, saya pun belajar, belajar dari kalian, bagaimana Allah menyadarkan kalian...
Senin, 09 Mei 2016
Pilihan Yang Harus Ditentukan!
"Putuskan dan tentukan!"
Kalimat singkat, padat dan jelas. Yang berarti harus ada pilihan yang ditentukan dan langkah yang harus diputuskan. Kalimat yang sangat menjelaskan secara lugas bahwa selama ini kita 'terlalu baik' dalam toleransi. Terlalu memikirkan satu sisi tanpa melihat efek ke sisi yang lain. Mengorbankan semua demi yang satu, satu yang tidak bisa dirubah, satu yang membuat gesekan, satu yang membuat kita stagnan...
Hidup itu dinamis. Hidup itu seleksi. Hidup itu pahit. Hidup itu peluh. Hidup itu keringat. Segala tentang hidup tidak semuanya senang. Agar kita bersyukur akan nikmat-Nya dan menguatkan kita.
"Sampah di tengah lautan pasti akan ke tepi!"
Kasar memang, tapi benar adanya.
Saat bicara tentang organisasi, maka kita bicara tentang tujuan bersama. Bicara tentang kepentingan bersama. Untuk apa pusing memikirkan yang dengan Pengecutnya berontak? Pengecut! Karena tidak jantan dalam mengambil sikap. Ngga nyamanmu, kamu kasih tau. Tapi kamu ngga bertanggung jawab dan ngga punya keinginan untuk mendapat dan membuat solusi. Hingga akhirnya alasan itu lagi - itu lagi yang diberi.
Kalau gitu, silahkan! Jangan ganggu kami dengan Pengecutmu itu! Masih ada hal yang jauh lebih penting yang harus dikerjakan daripada menyimpan sampah.
Ah, percuma! Kamu ngga berani karena kamu pengecut. Sampai akhirnya kami yang membuat keputusan. Ngga perlu bertanya kenapa, hati kamu sendiri yang akan jawab! Dan terbukti! Sampah akan lebih bau pada tempatnya. Saya pikir ini tepat. Seengganya sampai saat ini kamu sendiri yang menunjukan sampahmu itu....
Saya, kami bersyukur...
Bersyukur karena satu penghalang telah pergi. Ini yang harus diputuskan. Sudah lama kita berjalan dan alasan ngga logismu sudah terlanjur bikin saya mual...
Pergilah! Tunjukan aslimu agar kami bersyukur! Bersyukur karena virus telah hilang dari kami...
Dan terima kasih! Terima kasih telah mengingatkan bahwa kami harus berbenah...
Terima kasih...
Minggu, 01 Mei 2016
Salah Rekrut?
Salah Rekrut?
Judul yang menarik...
Bicara soal rekrutmen, bicara soal seleksi pemilihan. Kita sering mendengar dan mengenal contoh rekrutmen, sebut saja rekrutmen karyawan perusahaan, pemain sepak bola, pembalap dan lain - lain. Dalam rekrutmen tentu saja ada kriteria standar yang harus dipenuhi oleh para calon. Tentu saja dengan maksud mendapatkan calon terbaik.
Tapi, bagaimana dengan perekrutan tanpa seleksi? Salah kah? Saya rasa ngga salah. Karena prinsip saya yang terpilih lewat seleksi pun belum tentu terbaik...
Bagi saya, semua kembali pada diri masing - masing. Harus mampu melaksanakan amanah yang sudah diberi, terlebih bagi mereka yang tanpa seleksi. Mudah...
Ada beberapa dampak yang saat ini ada disekitar saya sebagai akibat dari hal tersebut.
Pertama, munculnya kecemburuan bagi mereka yang mengikuti seleksi kepada mereka yang tidak mengikuti seleksi. Jelas hal ini terjadi karena merasa bahwa mereka yang tanpa seleksi masuk dengan sangat mudah, sementara mereka yang seleksi harus berkorban sebelumnya.
Kedua, munculnya opini - opini kotor. Opini tentang adanya faktor popularitas, kedekatan, hubungan dengan orang - orang yang berkaitan dengan rekrutmen, dan lain - lain.
Dan ketiga, muncul pikiran meremehkan. Meremehkan bibit bebet bobotnya si calon ini. Karena merasa tidak mengikuti proses dari awal, sehingga mental dan etosnya belum bisa diandalkan.
Dari pengalaman saya, mereka yang tidak ikut seleksi tidak semuanya buruk. Seperti kata saya sebelumnya, kembali pada diri masing - masing. Ada mereka yang meski tidak seleksi, mereka mampu mengemban amanah dengan sangat baik karena tanggung jawab. Ada pula yang tidak menghargai dan melaksanakan amanah yang diberi dengan tidak bertanggung jawab.
Kalo boleh berkomentar dalam hal ini, saya rasa rekrutmen tanpa seleksi tidaklah salah selama telah mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Terutama bahwa bermacam - macamnya pandangan orang. Saya pikir kunci dari rekrutmen tersebut adalah menempatkannya pada posisi dimana dia dapat belajar dahulu sebagai modal untuk kelanjutannya. Ini lebih baik sehingga meminimalisir gesekan dalam internalnya. Namun untuk posisi strategisnya, diperlukan betul pengenalan luar dalam dari si calon. Posisi ini posisi paling vital, dia adalah nakhoda yang mengarahkan dan mengatur kapalnya. Juga sebagai percontohan bagi anggotanya. Maka, harus sangat mengenal luar dalamnya.
Jadi, saya rasa untuk para perekrut, mohon dipertimbangkan betul dampak internal dan eksternalnya. Bahwa bagaimanapun kita berada di lingkungan masyarakat yang heterogen dalam pola pikir dan pandangannya yang tidak bisa kita satukan visinya secara mutlak dalam waktu singkat.
Dan bagi mereka yang diberi amanah luar biasa, jaga dan laksanakanlah amanah itu. Kalian adalah orang - orang spesial, maka tunjukanlah bahwa kalian layak menyandang predikat spesial itu. Jangan kita kita khianati amanah yang begitu mahal harganya!
Sukses dan Bravo Organisasi!