Sudah sering kita dengar istilah Revolusi Mental. Istilah yang terkenal oleh Presiden Jokowi dan Wakilnya JK. Selaras dengan keadaan organisasi saat ini. Mental - mental payah yang harus dibina.
Era sekarang adalah era dimana setiap orang berhak terlena. Terlena karena merasa didiamkan, merasa tidak ada shock therapy, merasa friendly sehingga seolah tidak ada batas struktural, etika maupun norma. Dengan alasan pengakraban, kesolidan dan lainnya tembok tersebut hancur sehancur - hancurnya sehingga berdampak pada attitude organisasi.
Gobloknya, mereka sangat vokal menentang saat dikritisi dalam evaluasi tentang internalnya, tapi ngga mau membenahi. Dievaluasi hanya masuk telinga, keluar pantat. Ngga kalah vokal dalam menuntut kesuksesan acara tetapi lambat saat persiapannya. Mental sampah yang harus dibinasakan! Andai ngga ada norma yang dilanggar, ingin rasanya tempeleng kepala - kepala penuh kotoran dan hati penuh nanah itu.
Sekarang, perbedaan prinsip ini semakin jelas terlihat, semakin jelas timbulnya bahwa pandangan kami sangat bertolak belakang. Entah benar atau salah, saya rasa saya harus hijrah. Terlintas dalam benak untuk pergi dari keadaan ini, tapi lagi - lagi, Sang Pemilik Hati ini mengarahkan saya untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dahulu.
Terlanjur lelah, lelah akan ketulian dan kebutaan mereka. Ya Allah, engkau yang Maha Mengatur, beri kami petunjuk-Mu agar kami tetap pada jalan-Mu
Sabtu, 21 Mei 2016
Mental atau Pembinaannya?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar