Akhir - akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang Masa Orientasi Siswa atau MOS... Kabarnya MOS kini diganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS berdasarkan Peraturan Mendikbud Nomor 18 tahun 2016...
MPLS melarang adanya aksi bully, plonco, tindakan mempermalukan, hal - hal yang tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah serta senioritas. Artinya, Guru adalah subjek dalam kegiatan ini, bukan kakak kelas...
Rasa bahagia, senang dan syukur pun tercurah khususnya oleh siswa - siswi dan orang tuanya. Maklum saja, selama ini MOS atau MPLS identik dengan atribut nyeleneh. Belum lagi kabar aksi kekerasan dan bully oleh para seniornya. Tentu ini menjadi angin segar bagi siswa - siswi dan orang tua peserta didik baru...
Tapi, ada rasa gundah dalam diri saya pribadi...
Saya pernah menjadi Panitia MOS sebelumnya, dengan posisi Mentor. Sekolah saya pun sudah menerapkan ini bahkan sebelum peraturan ini dibuat. Bandingkan tetangga kami yang tahun lalu masih menerapkan atribut nyeleneh... MOS waktu itu sangat soft, friendly and happy. Kami enjoy dengan acara itu, seperti keluarga mendadak...
Kemudian saat mulai KBM Tahun Pelajaran baru, bagian dari efeknya muncul...
Kelas X yang di MOS dengan cara itu, ternyata terlena bahkan meremehkan... Meremehkan peraturan sekolah, kakak kelas dan gurunya... Seolah dilayani bak raja sebelumnya, sehingga bebas berlaku apa saja... Saya mengakui bahwa dalam MOS kemarin, tekanan dan pembinaan kami memang kurang... Tidak ada shock therapy untuk membiasakannya... Apalagi LDKS yang sangat enak...
Hasilnya, mereka terlena... Ngga ngerasa dibina, seolah diajak main... Akibatnya mereka merasa raja... Harus dilayani dengan dalih pendidikan... Salah siapa ini? Kita lihat di media banyak kasus guru dibui karena mencubit siswanya, padahal siswanya itu nakal dan melanggar aturan... Lucunya Indonesia, Tuhan... Guru seakan hanya menjadi orang yang mengajarkan akademik saja, tanpa etika, moral dan spiritual...
Memberi hukuman kepada mereka yang melanggar justru dibui... Dengan dalih pendidikan yang sehat dan hak asasi manusia dan korban dibawah umur... Lantas dengan apa guru - guru kami mendidik? Peraturan ini tidak disurvei kah? Bagaimana mental anak - anak indonesia sekarang? Manja!!!
Negeri kita banyak orang pintar! Banyak orang hebat! Banyak orang sukses! TAPI MISKIN PEMIMPIN! Mengapa? Karena kurangnya dukungan pembinaan, kurang pelatihan, kurang shock therapy, kurang sosialisasi dan pencerahan agama... SEMENTARA PEMIMPIN DIHASILKAN DARI PROSES YANG MENYAKITKAN, DERITA, PELUH, AIR MATA HINGGA TIDAK ADA LAGI HAL ITU DALAM KEPEMIMPINANNYA KELAK!
MEMIMPIN ADALAH MENDERITA!!! Bagaimana membagun mental Agus Salim pada generasi sekarang wahai pemimpinku?!!! Kau bilang JAS MERAH!!! Para guru - guru kita sekarang dilema... Hasil yang kalian minta tidak sejalan dengan cara yang harus kami lakukan!!!
Kini, kami, para bapak ibu guru harus mengatur strategi, bukan untuk berkedok dalam dilema ini... Tetapi mengatur agar pembinaan tetap berjalan menyesuaikan peraturan ini... Bukan karena senioritas, tapi kami ingin pemimpin... Pemimpin dilahirkan atas proses panjang nan menyakitkan, bukan hura - hura dan permainan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar