Minggu, 01 Mei 2016

Salah Rekrut?

      Salah Rekrut?

      Judul yang menarik...
      Bicara soal rekrutmen, bicara soal seleksi pemilihan. Kita sering mendengar dan mengenal contoh rekrutmen, sebut saja rekrutmen karyawan perusahaan, pemain sepak bola, pembalap dan lain - lain. Dalam rekrutmen tentu saja ada kriteria standar yang harus dipenuhi oleh para calon. Tentu saja dengan maksud mendapatkan calon terbaik.

      Tapi, bagaimana dengan perekrutan tanpa seleksi? Salah kah? Saya rasa ngga salah. Karena prinsip saya yang terpilih lewat seleksi pun belum tentu terbaik...
Bagi saya, semua kembali pada diri masing - masing. Harus mampu melaksanakan amanah yang sudah diberi, terlebih bagi mereka yang tanpa seleksi. Mudah...

      Ada beberapa dampak yang saat ini ada disekitar saya sebagai akibat dari hal tersebut.
Pertama, munculnya kecemburuan bagi mereka yang mengikuti seleksi kepada mereka yang tidak mengikuti seleksi. Jelas hal ini terjadi karena merasa bahwa mereka yang tanpa seleksi masuk dengan sangat mudah, sementara mereka yang seleksi harus berkorban sebelumnya.
Kedua, munculnya opini - opini kotor. Opini tentang adanya faktor popularitas, kedekatan, hubungan dengan orang - orang yang berkaitan dengan rekrutmen, dan lain - lain.
Dan ketiga, muncul pikiran meremehkan. Meremehkan bibit bebet bobotnya si calon ini. Karena merasa tidak mengikuti proses dari awal, sehingga mental dan etosnya belum bisa diandalkan.

      Dari pengalaman saya, mereka yang tidak ikut seleksi tidak semuanya buruk. Seperti kata saya sebelumnya, kembali pada diri masing - masing. Ada mereka yang meski tidak seleksi, mereka mampu mengemban amanah dengan sangat baik karena tanggung jawab. Ada pula yang tidak menghargai dan melaksanakan amanah yang diberi dengan tidak bertanggung jawab.

      Kalo boleh berkomentar dalam hal ini, saya rasa rekrutmen tanpa seleksi tidaklah salah selama telah mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Terutama bahwa bermacam - macamnya pandangan orang. Saya pikir kunci dari rekrutmen tersebut adalah menempatkannya pada posisi dimana dia dapat belajar dahulu sebagai modal untuk kelanjutannya. Ini lebih baik sehingga meminimalisir gesekan dalam internalnya. Namun untuk posisi strategisnya, diperlukan betul pengenalan luar dalam dari si calon. Posisi ini posisi paling vital, dia adalah nakhoda yang mengarahkan dan mengatur kapalnya. Juga sebagai percontohan bagi anggotanya. Maka, harus sangat mengenal luar dalamnya.

       Jadi, saya rasa untuk para perekrut, mohon dipertimbangkan betul dampak internal dan eksternalnya. Bahwa bagaimanapun kita berada di lingkungan masyarakat yang heterogen dalam pola pikir dan pandangannya yang tidak bisa kita satukan visinya secara mutlak dalam waktu singkat.
Dan bagi mereka yang diberi amanah luar biasa, jaga dan laksanakanlah amanah itu. Kalian adalah orang - orang spesial, maka tunjukanlah bahwa kalian layak menyandang predikat spesial itu. Jangan kita kita khianati amanah yang begitu mahal harganya!

      Sukses dan Bravo Organisasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar