Minggu, 04 September 2016

Love in Islam

       Cinta...
       Hal yang naluriah ada pada diri tiap manusia, baik laki - laki maupun perempuan. Sejak kapan cinta itu hadir? Secara teori awal darinya adalah ketertarikan kepada lawan jenis saat masa pubertas. Kemudian sebagian dari kita menyatakannya sebagai cinta... Lantas bagaimana Islam memandang cinta?

       Cinta dalam pandangan Islam adalah hal yang suci dan terjaga, karena merupakan anugerah terindah dari Allah kepada makhluknya... Begitu Islam sangat memuliakan cinta, sampai Islam melarang adanya interaksi antara Ikhwan dan Akhwat secara intim kecuali telah halal. Fenomena yang terjadi sekarang adalah bagaimana cinta itu disalurkan dan diwujudkan?
       Islam telah memberi solusi atas pertanyaan itu dalam Al - Quran. Dalam Q.S An - Nur ayat 32, Allah memberikan solusi atas hal itu dengan menikah. Dalam ayat tersebut, bahkan Allah menjamin kelapangan saat kita ingin menikah. Jika ia miskin, maka Allah akan cukupkan baginya... Ketakutan para orang tua akan masa depan putrinya pun tak usah dirisaukan selama niat dan ikhtiar dalam pernikahan itu semata Lillahi Ta'ala... Menikahpun menjadi sebuah bukti nyata, realisasi dari sebuah komitmen antara laki - laki dan perempuan untuk berumah tangga dan menyempurnakan sebagian dari agamanya.
       Kemudian, bagaimana jika terlalu dini jika menikah? Atau masih ragu dengan perasaan kita? Atau merasa belum mampu dalam hal finansial dan sebagainya? Allah SWT pun memberi solusi dalam Q.S An - Nur ayat 30 bahwa kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan terhadap apa yang haram bagi kita. Baik hati, pikiran dan mata harus dijaga ketundukkannya pada Allah semata... Karena dari pandangan itu akan menimbulkan fitnah, dan disanalah setan akan merayu manusia dalam kemaksiatan...
Saat kita belum mampu untuk menikah, janganlah kita mengutarakannya kecuali kita akan menikahinya. Sebab cinta adalah hal yang suci, maka janganlah kita kotori untuk hal yang dimurkai Allah dengan 'berzina' pada yang haram bagi kita...

       Semoga Allah melapangkan hati dan jiwa kita, mencukupkan apa yang kita butuhkan, mengabulkan doa kita, dan memberikan jodoh terbaik untuk kita yang senantiasa memperbaiki diri Lillahi Ta'ala. Amin...

Kamis, 21 Juli 2016

Andai Aku Adalah Ali...

      Ali Bin Abi Thalib...
      Salah satu sosok pemuda Islam yang telah menginspirasiku dalam hidup ini... Dia lelaki yang hebat, pemuda yang luar biasa dan Idaman para bidadari surga...
     
      Dia adalah sepupu Rasulullah SAW, sekaligus sahabat Nabi yang termuda... Dia adalah sosok yang sederhana, bahkan mungkin bisa dibilang miskin hartanya, namun Masha Allah ia kaya akan akhlaknya...
     Salah satu hal dalam kisahnya yang menginspirasiku sebagai pemuda, sebagai remaja yang tengah berada dalam arus zaman yang makin tua dan mendekati akhirnya, adalah kisahnya dalam hal membina hatinya...

      Ali terlahir dalam keluarga yang miskin, bahkan ia pun diasuh oleh Rasulullah untuk memenuhi hidupnya... Sebagai sepupu dan sahabat Rasulullah, ia pun dianugerahkan oleh Allah akhlak yang terpuji...
     Sebagai seorang pemuda, tentu sudah menjadi naluriah manusia untuk tertarik kepada wanita. Namun, ia bukan lelaki yang mudah dalam mengungkapkan. Singkat cerita, ia tertarik kepada Fatimah binti Muhammad, puteri kesayangan Rasulullah SAW... Kecantikan paras dan akhlak Fatimah membuat Ali jatuh cinta... Namun, terbesit dalam hatinya tentang keadaannya yang menurutnya tidak pantas untuk wanita seperti Fatimah. Ia pendam perasaannya pada Fatimah karena sadar akan hal itu, dan ia sibukkan dirinya pada Allah SWT... Berharap Allah akan menjaga hatinya...

     Sampai ketika Ali merasa harus mengungkapkannya, Ali merasa hancur... Ia mengetahui bahwa Abu Bakar akan melamar Fatimah. Hancur hati Ali... Wanita idamannya akan dilamar dan dipinang oleh Abu Bakar yang tak lain adalah sahabat karib Rasulullah SAW. Ali pun merasa bahwa dirinya tak bisa dibandingkan dengan Abu Bakar yang telah berjasa kepada Rasulullah dalam tugasnya. Ali kecewa... Ia pun menguatkan diri atas kenyataannya... Namun, apa yang terjadi? Dia mengetahui bahwa Rasulullah telah menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali terkejut dan bahagia, karena bagaimana mungkin Rasulullah menolak lamaran seorang Abu Bakar? Ah sudahlah, Ali merasa bahwa inilah saatnya untuk kembali pada niatnya dahulu, melamar Fatimah...

     Saat Ali meyakinkan diri untuk melamar Fatimah, apa yang datang kepadanya justru kembali membuatnya hancur... Umar bin Khattab melamar Fatimah!!! Lelaki gagah nan berani, seorang panglima perang andalan Islam bagi Rasulullah yang disegani itu melamar Fatimah... Hancur hati Ali... Kini ia pun makin merasa kecil bila dibandingkan dengan Umar....
     Kini Ali pasrah... Mengembalikan hatinya pada Sang Illahi... Dan Ali pun mengatakan dalam hatinya "Aku mengutamakan Umar atas diriku, dan kebahagian Fatimah atas cintaku"
     Masha Allah, betapa Ali sangat merendahkan dirinya dihadapan Allah... Yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Illahi... Ali pun menguatkan kembali hatinya, bahwa Allah akan mengembalikan hatinya dan memberikan yang terbaik dan dibutuhkan olehnya... Namun, datanglah Abu Bakar... Kehendak Allah lah yang Maha Indah nan Mengharukan... Abu Bakar membawa berita bahwa lamaran Umar pun ditolak juga oleh Sang Kekasih Allah... Ali pun bingung, menantu seperti apa yang dinginkan Rasulullah? Saat tengah berpikir, Abu Bakar pun menyarankan Ali tuk melamar Fatimah kembali... Kini Ali pun bingung dan semangat. Namun, tekadnya demi Fatimah semakin menggelora... Dengan perasaan malu dan merendah, ia mengunjungi Rasulullah dan menyatakan bahwa ia berniat melamar Fatimah... Siapa sangka? Sang Kekasih Allah pun mengatakan, "Ahlan wa Sahlan, ya Ali..." Rasulullah menerima lamaran Ali dan mengatakan bahwa cukup memberikannya mahar baju perangnya...
Subhanallah, Ali menikah dengan Fatimah!!!

    Ditengah kebahagiannya, Fatimah mengatakan kepada Ali bahwa sebenarnya sebelum ia dinikahi Ali, ia telah lebih dahulu mencintai seorang pemuda. Mendengar hal itu, Ali mengatakan bahwa ia Ikhlas jika Fatimah tidak memperkenankan pernikahannya... Dalam derai air mata Ali, Ali bertanya kepada Fatimah sebelum menceraikannya... Siapakah lelaki itu, wahai Fatimah? Fatimah menjawab, engkau ya suamiku, Ali Bin Abi Thalib...

      Subhanallah, betapa indahnya Islam menjaga kesucian cinta... Mempertemukan dua insan yang berakhalakul karimah, menjaga cintanya hanya untuk halalnya kelak...
Betapa Islam tak memandang status sosial dalam cinta... Islam mengutamakan akhlak dalam Cinta... Menjaga cinta agar tetap pada kesuciannya hingga Allah menyatukannya dengan sang yang diidamkan hati...

      Andai kita dapat meneladani Ali dan Fatimah dalam menjaga hati, cinta dan pergaulannya, tentu akan menjadi sebuah kisah cinta bagai negeri dongeng... Namun ini nyata dan betapa Allah tak pernah menyalahi Janji-Nya, ia adalah Zat yang Maha Cinta... Serahkan cintamu pada-Nya, dan mohon padanya agar mendapat Ridho atas pilihan kita...

     Kini, yang perlu kita lakukan adalah, memperbaiki diri untuk mendapatkan yang kita inginkan, dan jangan lupa meluruskan niat, Lillahi Ta'ala...

Sabtu, 02 Juli 2016

Gelitik Masa Orientasi Siswa

       Akhir - akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang Masa Orientasi Siswa atau MOS... Kabarnya MOS kini diganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS berdasarkan Peraturan Mendikbud Nomor 18 tahun 2016...
MPLS melarang adanya aksi bully, plonco, tindakan mempermalukan, hal - hal yang tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah serta senioritas. Artinya, Guru adalah subjek dalam kegiatan ini, bukan kakak kelas...

      Rasa bahagia, senang dan syukur pun tercurah khususnya oleh siswa - siswi dan orang tuanya. Maklum saja, selama ini MOS atau MPLS identik dengan atribut nyeleneh. Belum lagi kabar aksi kekerasan dan bully oleh para seniornya. Tentu ini menjadi angin segar bagi siswa - siswi dan orang tua peserta didik baru...

       Tapi, ada rasa gundah dalam diri saya pribadi...
       Saya pernah menjadi Panitia MOS sebelumnya, dengan posisi Mentor. Sekolah saya pun sudah menerapkan ini bahkan sebelum peraturan ini dibuat. Bandingkan tetangga kami yang tahun lalu masih menerapkan atribut nyeleneh... MOS waktu itu sangat soft, friendly and happy. Kami enjoy dengan acara itu, seperti keluarga mendadak...
Kemudian saat mulai KBM Tahun Pelajaran baru, bagian dari efeknya muncul...
     
       Kelas X yang di MOS dengan cara itu, ternyata terlena bahkan meremehkan... Meremehkan peraturan sekolah, kakak kelas dan gurunya... Seolah dilayani bak raja sebelumnya, sehingga bebas berlaku apa saja... Saya mengakui bahwa dalam MOS kemarin, tekanan dan pembinaan kami memang kurang... Tidak ada shock therapy untuk membiasakannya... Apalagi LDKS yang sangat enak...
      Hasilnya, mereka terlena... Ngga ngerasa dibina, seolah diajak main... Akibatnya mereka merasa raja... Harus dilayani dengan dalih pendidikan... Salah siapa ini? Kita lihat di media banyak kasus guru dibui karena mencubit siswanya, padahal siswanya itu nakal dan melanggar aturan... Lucunya Indonesia, Tuhan... Guru seakan hanya menjadi orang yang mengajarkan akademik saja, tanpa etika, moral dan spiritual...
     
       Memberi hukuman kepada mereka yang melanggar justru dibui... Dengan dalih pendidikan yang sehat dan hak asasi manusia dan korban dibawah umur... Lantas dengan apa guru - guru kami mendidik? Peraturan ini tidak disurvei kah? Bagaimana mental anak - anak indonesia sekarang? Manja!!!
       Negeri kita banyak orang pintar! Banyak orang hebat! Banyak orang sukses! TAPI MISKIN PEMIMPIN! Mengapa? Karena kurangnya dukungan pembinaan, kurang pelatihan, kurang shock therapy, kurang sosialisasi dan pencerahan agama... SEMENTARA PEMIMPIN DIHASILKAN DARI PROSES YANG MENYAKITKAN, DERITA, PELUH, AIR MATA HINGGA TIDAK ADA LAGI HAL ITU DALAM KEPEMIMPINANNYA KELAK!
       MEMIMPIN ADALAH MENDERITA!!! Bagaimana membagun mental Agus Salim pada generasi sekarang wahai pemimpinku?!!! Kau bilang JAS MERAH!!! Para guru - guru kita sekarang dilema... Hasil yang kalian minta tidak sejalan dengan cara yang harus kami lakukan!!!

      Kini, kami, para bapak ibu guru harus mengatur strategi, bukan untuk berkedok dalam dilema ini... Tetapi mengatur agar pembinaan tetap berjalan menyesuaikan peraturan ini... Bukan karena senioritas, tapi kami ingin pemimpin... Pemimpin dilahirkan atas proses panjang nan menyakitkan, bukan hura - hura dan permainan!

Kamis, 23 Juni 2016

Memantaskan Diri...

       Hampir setiap waktu, aku merasa bahwa hati ini terlalu 'murah'...
'Murah' karena dengan siapa saja aku tertambat, terpesona dengannya, dan mendambakannya. Namun, saat itu juga luka itu datang... Datang dari dalamnya dan kenyataan bersamanya... Menghancurkan pilar - pilar yang ingin kubangun bersamanya...

      Bukan pertama kalinya...
Hampir berkali - kali merasa hal yang sama... Lantas aku bertanya, manusiawi kah? Wajar kah? Atau aku yang diperbudak nafsu?
Tidak pernah aku mengutarakan, namun semakin aku mendamba, kepahitan selalu mengiringinya...
Andai hidup seindah Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, pasti tenang sudah hidup ini...

       Mereka bilang, Allah maha Adil... Allah memasangkan dua insan yang sepantas satu sama lain...
Hingga bisa kusimpulkan, bahwa apa yang harus dilakukan sekarang adalah memantaskan diri dengan menjadi sosok seperti apa yang kita butuhkan, bukan inginkan! Dengan niat semata lillahi ta'ala...
Meski bukan engkau, bahkan aku pun tak tahu bagaimana engkau, aku hanya berdoa, semoga engkau berada dalam kepantasan denganku dan sebaliknya, serta dalam semangat memperbaiki diri dan menutup kekurangan masing - masing...
Atau Allah mempunyai rencana indah sebagai gantinya, untukku dan untukmu...
Insha Allah...

Sabtu, 11 Juni 2016

Sang Pemilik Hati

       Setelah berlarut - larut dalam 'perjudian' itu, aku memutuskan untuk men-sharing hal ini pada seseorang yang berwenang dalam 2 keputusan 'perjudian'ku. Intinya, dia mengharapkan aku tetap dalam tempat itu. Tapi, ngga tau kenapa, rasanya aku mulai kembali cinta pada tempat itu. Setelah sebelumnya betapa aku ingin pergi jauh darinya, tapi kali ini justru bertolak belakang. Dan dari hari - hari yang ku jalani setelah keputusan bertahanku, justru aku kembali mendapat ritme dan feelnya...

       Kalo sudah begini, harus aku simpulkan bahwa aku harus kembali, kembali seperti dulu, namun lebih baik karena separuh dari aku yang dulu telah kembali... Mungkin aku butuh penyeimbang yang bisa mengakomodasi aku untuk tetap survive...

       Alhamdulillah, kalimat yang tiada henti aku bersyukur pada Allah atas ujian-Nya dan pelajaran-Nya. Bahwa semakin yakin dan iman aku bahwa sesuatu berlaku atas kehendak Allah SWT.
Kini, bismillah, aku akan memulai kembali pertarungan hidupku, pertarungan dengan diriku sendiri bersama Allah SWT disisiku...

Jumat, 03 Juni 2016

Perjudian Hidupku

       Perjudian...

       Kata yang terdengar kurang enak tapi cocok untuk menggambarkan keadaan yang kupilih saat ini. Jika sukses aku bertahan, jika gagal aku hancur...
Sekian lama waktu berpikir, perdebatan hebat antara hati dan pikiran, mendengar pendapat dari beberapa sahabat, dan Allah memberiku petunjuk bahwa ego ini harus aku redam, kuputuskan bertahan.

       Mengambil keputusan yang kukira mudah, ternyata jauh dari perkiraan. Berbagai konsekuensi baik untuk pribadi maupun mereka, banyak mengulang tanya tentang keputusanku....
Anggap saja aku berjudi! Aku bertahan semata menunaikan amanah, meski tahu nanah macam apa didalam... Semata mengawasi jangan sampai terlewat batas... Toh, prediksi selanjutnya sudah kupegang. Tapi jika aku gagal, aku hancur bersama kegagalan itu. Setidaknya amanah telah kulaksanakan.

       Tentang mereka, mereka yang aku masih sayangi, sayang karena aku tahu potensi mereka... Saat ini aku hanya bisa melihat dan menilai, demi kalian yang lebih baik diluar prediksiku. Kalaupun terjadi, aku harap kalian menjadi agen perubahannya.
Saat ini, aku hanya ingin menjalani sisa amanah ini dengan tenang, tidak mau terlarut dalam kesenangan semu itu lagi... Tempat ini baik, sayang nanah didalamnya... Biarlah, ini aku jadikan pelajaran hidup. Suksesnya disini adalah pelajaran hidup, aku mengerti sekarang...

      Bismillah...

Sabtu, 21 Mei 2016

Mental atau Pembinaannya?

       Sudah sering kita dengar istilah Revolusi Mental. Istilah yang terkenal oleh Presiden Jokowi dan Wakilnya JK. Selaras dengan keadaan organisasi saat ini. Mental - mental payah yang harus dibina.
    
      Era sekarang adalah era dimana setiap orang berhak terlena. Terlena karena merasa didiamkan, merasa tidak ada shock therapy, merasa friendly sehingga seolah tidak ada batas struktural, etika maupun norma. Dengan alasan pengakraban, kesolidan dan lainnya tembok tersebut hancur sehancur - hancurnya sehingga berdampak pada attitude organisasi.
      Gobloknya, mereka sangat vokal menentang saat dikritisi dalam evaluasi tentang internalnya, tapi ngga mau membenahi. Dievaluasi hanya masuk telinga, keluar pantat. Ngga kalah vokal dalam menuntut kesuksesan acara tetapi lambat saat persiapannya. Mental sampah yang harus dibinasakan! Andai ngga ada norma yang dilanggar, ingin rasanya tempeleng kepala - kepala penuh kotoran dan hati penuh nanah itu.
       Sekarang, perbedaan prinsip ini semakin jelas terlihat, semakin jelas timbulnya bahwa pandangan kami sangat bertolak belakang. Entah benar atau salah, saya rasa saya harus hijrah. Terlintas dalam benak untuk pergi dari keadaan ini, tapi lagi - lagi, Sang Pemilik Hati ini mengarahkan saya untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan dahulu.
     
       Terlanjur lelah, lelah akan ketulian dan kebutaan mereka. Ya Allah, engkau yang Maha Mengatur, beri kami petunjuk-Mu agar kami tetap pada jalan-Mu