Kamis, 21 Juli 2016

Andai Aku Adalah Ali...

      Ali Bin Abi Thalib...
      Salah satu sosok pemuda Islam yang telah menginspirasiku dalam hidup ini... Dia lelaki yang hebat, pemuda yang luar biasa dan Idaman para bidadari surga...
     
      Dia adalah sepupu Rasulullah SAW, sekaligus sahabat Nabi yang termuda... Dia adalah sosok yang sederhana, bahkan mungkin bisa dibilang miskin hartanya, namun Masha Allah ia kaya akan akhlaknya...
     Salah satu hal dalam kisahnya yang menginspirasiku sebagai pemuda, sebagai remaja yang tengah berada dalam arus zaman yang makin tua dan mendekati akhirnya, adalah kisahnya dalam hal membina hatinya...

      Ali terlahir dalam keluarga yang miskin, bahkan ia pun diasuh oleh Rasulullah untuk memenuhi hidupnya... Sebagai sepupu dan sahabat Rasulullah, ia pun dianugerahkan oleh Allah akhlak yang terpuji...
     Sebagai seorang pemuda, tentu sudah menjadi naluriah manusia untuk tertarik kepada wanita. Namun, ia bukan lelaki yang mudah dalam mengungkapkan. Singkat cerita, ia tertarik kepada Fatimah binti Muhammad, puteri kesayangan Rasulullah SAW... Kecantikan paras dan akhlak Fatimah membuat Ali jatuh cinta... Namun, terbesit dalam hatinya tentang keadaannya yang menurutnya tidak pantas untuk wanita seperti Fatimah. Ia pendam perasaannya pada Fatimah karena sadar akan hal itu, dan ia sibukkan dirinya pada Allah SWT... Berharap Allah akan menjaga hatinya...

     Sampai ketika Ali merasa harus mengungkapkannya, Ali merasa hancur... Ia mengetahui bahwa Abu Bakar akan melamar Fatimah. Hancur hati Ali... Wanita idamannya akan dilamar dan dipinang oleh Abu Bakar yang tak lain adalah sahabat karib Rasulullah SAW. Ali pun merasa bahwa dirinya tak bisa dibandingkan dengan Abu Bakar yang telah berjasa kepada Rasulullah dalam tugasnya. Ali kecewa... Ia pun menguatkan diri atas kenyataannya... Namun, apa yang terjadi? Dia mengetahui bahwa Rasulullah telah menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali terkejut dan bahagia, karena bagaimana mungkin Rasulullah menolak lamaran seorang Abu Bakar? Ah sudahlah, Ali merasa bahwa inilah saatnya untuk kembali pada niatnya dahulu, melamar Fatimah...

     Saat Ali meyakinkan diri untuk melamar Fatimah, apa yang datang kepadanya justru kembali membuatnya hancur... Umar bin Khattab melamar Fatimah!!! Lelaki gagah nan berani, seorang panglima perang andalan Islam bagi Rasulullah yang disegani itu melamar Fatimah... Hancur hati Ali... Kini ia pun makin merasa kecil bila dibandingkan dengan Umar....
     Kini Ali pasrah... Mengembalikan hatinya pada Sang Illahi... Dan Ali pun mengatakan dalam hatinya "Aku mengutamakan Umar atas diriku, dan kebahagian Fatimah atas cintaku"
     Masha Allah, betapa Ali sangat merendahkan dirinya dihadapan Allah... Yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Illahi... Ali pun menguatkan kembali hatinya, bahwa Allah akan mengembalikan hatinya dan memberikan yang terbaik dan dibutuhkan olehnya... Namun, datanglah Abu Bakar... Kehendak Allah lah yang Maha Indah nan Mengharukan... Abu Bakar membawa berita bahwa lamaran Umar pun ditolak juga oleh Sang Kekasih Allah... Ali pun bingung, menantu seperti apa yang dinginkan Rasulullah? Saat tengah berpikir, Abu Bakar pun menyarankan Ali tuk melamar Fatimah kembali... Kini Ali pun bingung dan semangat. Namun, tekadnya demi Fatimah semakin menggelora... Dengan perasaan malu dan merendah, ia mengunjungi Rasulullah dan menyatakan bahwa ia berniat melamar Fatimah... Siapa sangka? Sang Kekasih Allah pun mengatakan, "Ahlan wa Sahlan, ya Ali..." Rasulullah menerima lamaran Ali dan mengatakan bahwa cukup memberikannya mahar baju perangnya...
Subhanallah, Ali menikah dengan Fatimah!!!

    Ditengah kebahagiannya, Fatimah mengatakan kepada Ali bahwa sebenarnya sebelum ia dinikahi Ali, ia telah lebih dahulu mencintai seorang pemuda. Mendengar hal itu, Ali mengatakan bahwa ia Ikhlas jika Fatimah tidak memperkenankan pernikahannya... Dalam derai air mata Ali, Ali bertanya kepada Fatimah sebelum menceraikannya... Siapakah lelaki itu, wahai Fatimah? Fatimah menjawab, engkau ya suamiku, Ali Bin Abi Thalib...

      Subhanallah, betapa indahnya Islam menjaga kesucian cinta... Mempertemukan dua insan yang berakhalakul karimah, menjaga cintanya hanya untuk halalnya kelak...
Betapa Islam tak memandang status sosial dalam cinta... Islam mengutamakan akhlak dalam Cinta... Menjaga cinta agar tetap pada kesuciannya hingga Allah menyatukannya dengan sang yang diidamkan hati...

      Andai kita dapat meneladani Ali dan Fatimah dalam menjaga hati, cinta dan pergaulannya, tentu akan menjadi sebuah kisah cinta bagai negeri dongeng... Namun ini nyata dan betapa Allah tak pernah menyalahi Janji-Nya, ia adalah Zat yang Maha Cinta... Serahkan cintamu pada-Nya, dan mohon padanya agar mendapat Ridho atas pilihan kita...

     Kini, yang perlu kita lakukan adalah, memperbaiki diri untuk mendapatkan yang kita inginkan, dan jangan lupa meluruskan niat, Lillahi Ta'ala...

Sabtu, 02 Juli 2016

Gelitik Masa Orientasi Siswa

       Akhir - akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang Masa Orientasi Siswa atau MOS... Kabarnya MOS kini diganti menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS berdasarkan Peraturan Mendikbud Nomor 18 tahun 2016...
MPLS melarang adanya aksi bully, plonco, tindakan mempermalukan, hal - hal yang tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah serta senioritas. Artinya, Guru adalah subjek dalam kegiatan ini, bukan kakak kelas...

      Rasa bahagia, senang dan syukur pun tercurah khususnya oleh siswa - siswi dan orang tuanya. Maklum saja, selama ini MOS atau MPLS identik dengan atribut nyeleneh. Belum lagi kabar aksi kekerasan dan bully oleh para seniornya. Tentu ini menjadi angin segar bagi siswa - siswi dan orang tua peserta didik baru...

       Tapi, ada rasa gundah dalam diri saya pribadi...
       Saya pernah menjadi Panitia MOS sebelumnya, dengan posisi Mentor. Sekolah saya pun sudah menerapkan ini bahkan sebelum peraturan ini dibuat. Bandingkan tetangga kami yang tahun lalu masih menerapkan atribut nyeleneh... MOS waktu itu sangat soft, friendly and happy. Kami enjoy dengan acara itu, seperti keluarga mendadak...
Kemudian saat mulai KBM Tahun Pelajaran baru, bagian dari efeknya muncul...
     
       Kelas X yang di MOS dengan cara itu, ternyata terlena bahkan meremehkan... Meremehkan peraturan sekolah, kakak kelas dan gurunya... Seolah dilayani bak raja sebelumnya, sehingga bebas berlaku apa saja... Saya mengakui bahwa dalam MOS kemarin, tekanan dan pembinaan kami memang kurang... Tidak ada shock therapy untuk membiasakannya... Apalagi LDKS yang sangat enak...
      Hasilnya, mereka terlena... Ngga ngerasa dibina, seolah diajak main... Akibatnya mereka merasa raja... Harus dilayani dengan dalih pendidikan... Salah siapa ini? Kita lihat di media banyak kasus guru dibui karena mencubit siswanya, padahal siswanya itu nakal dan melanggar aturan... Lucunya Indonesia, Tuhan... Guru seakan hanya menjadi orang yang mengajarkan akademik saja, tanpa etika, moral dan spiritual...
     
       Memberi hukuman kepada mereka yang melanggar justru dibui... Dengan dalih pendidikan yang sehat dan hak asasi manusia dan korban dibawah umur... Lantas dengan apa guru - guru kami mendidik? Peraturan ini tidak disurvei kah? Bagaimana mental anak - anak indonesia sekarang? Manja!!!
       Negeri kita banyak orang pintar! Banyak orang hebat! Banyak orang sukses! TAPI MISKIN PEMIMPIN! Mengapa? Karena kurangnya dukungan pembinaan, kurang pelatihan, kurang shock therapy, kurang sosialisasi dan pencerahan agama... SEMENTARA PEMIMPIN DIHASILKAN DARI PROSES YANG MENYAKITKAN, DERITA, PELUH, AIR MATA HINGGA TIDAK ADA LAGI HAL ITU DALAM KEPEMIMPINANNYA KELAK!
       MEMIMPIN ADALAH MENDERITA!!! Bagaimana membagun mental Agus Salim pada generasi sekarang wahai pemimpinku?!!! Kau bilang JAS MERAH!!! Para guru - guru kita sekarang dilema... Hasil yang kalian minta tidak sejalan dengan cara yang harus kami lakukan!!!

      Kini, kami, para bapak ibu guru harus mengatur strategi, bukan untuk berkedok dalam dilema ini... Tetapi mengatur agar pembinaan tetap berjalan menyesuaikan peraturan ini... Bukan karena senioritas, tapi kami ingin pemimpin... Pemimpin dilahirkan atas proses panjang nan menyakitkan, bukan hura - hura dan permainan!